( Semarang, 11 Juni 2009) Kantor Panitia Pengawas Pemilu Propinsi Jawa Tengah Jl. Tri Lomba Juang Semarang, Ketua Pengawasan Panwaslu, Edi Pranoto mengatakan antara lain :
1. Sampai dengan tanggal 11 Juni 2009 ada 12 kabupaten / kota di Jawa Tengah yang
telah melaporkan daftar Pemilih Tetap (DPT ) bermasalah, diantaranya :
- TNI : 8 Orang
- Polri : 70 Orang
- Dibawah Umur : 165 Orang
- Meninggal : 2.578 Orang
- Tidak ada NIK : 27.331 Orang
- Tidak terdaftar / tidak dikenal : 5.783 Orang
- Pindah tempat : 2.191 Orang
- Ganda : 2.340 Orang
( Total = 40.466 Orang dari DPT Jawa Tengah sekitar 36 Juta Pemilih )
2. Warga Negara yang belum masuk dalam DPT, berdasarkan Rakerda yang diselenggarakan
di Medan, Panwas menunggu Rekomendasi dan Petunjuk Teknis dari Bawaslu karena
berdasarkan peraturan, DPT yang sudah ditetapkan oleh KPU tidak boleh diubah dan
ada sanksi tertentu, dilain fihak bila tidak direkomendasikan akan menghalangi
Hak Warga Negara untuk menggunakan Hak Pilihnya.
3. Panwaslu bekerjasama dengan Pemerintah Daerah sebagai fungsi koordinasi terkait
izin cuti Pejabat Pemerintah Daerah untuk melakukan Kampanye Pilpres.
(Fitri Aza)
Mengenai Saya
- Indo Berita nusantara
- jakarta, selatan, Indonesia
- Indo Berita Nusantara merupakan situs berita internet yang memberikan informasi berbentuk berita diseluruh nusantara Alamat Jl. Joe. Gg. Kelapa Hijau Telp.(021)98265014 Anda punya berita atau informasi silahkan kirim ke e-mal : ibernas.jakarta@yahoo.com
Jumat, 12 Juni 2009
Aksi Unjuk Rasa Pedagang Kawasan Pasar Johar Menolak Pembongkaran Kanjengan dan Relokasi Pasar
(Semarang, 11 Juni 2009) Lebih dari 700 orang pedagang Kawasan Pasar Johar Semarang, yang terdiri atas pedagang Pasar Johar, Pasar Yaik dan Pasar Kanjengan Semarang mendatangi kantor Gubernur Jl Pahlawan Semarang. Mereka melakukan Aksi Unjuk Rasa (AUR) menolak rencana dibongkarnya Pasar Kanjengan oleh investor. Aliansi yang ikut serta salah satunya adalah Aliansi Masyarakat Pedagang Kawasan Pasar Johar Semarang (AMPEKJOS). Korlap AUR tersebut adalah Bp. Prasetyo, sedangkan Ketua Panitia adalah Bp. Hanafi.
Pada tanggal 5 Juni 2009 para pedagang Pasar Kanjengan memerima surat dari PT. Pagar Gunung Kencana untuk melakukan pengosongan Blok C dan Blok D. Dan pada 15 Juni 2009 PT. Pagar Gunung Kencana akan membongkar Blok C dan Blok D. Selanjutnya, Pasar Yaik akan direlokasi dan dijadikan satu dengan Pasar Johar menjadi bangunan 6 lantai. Sedangkan bangunan lama Pasar Johar akan dijadikan tempat pameran kuliner.
Lokasi baru bagi pedagang Pasar Kanjengan yang diberikan oleh Dinas Pasar adalah :
* Pasar pagi akan dipindahkan ke tempat parkir lantai 3 dan 4
* Toko emas dan mutiara akan dipindahkan di SCJ
* Buah akan dipindahkan ke rejomulyo
Unggas akan dipondahkan ke wilayah pedurungan
Ketua Umum AMPEKJOS, Bp Mudasir menyatakan antara lain :
* Terjadinya aksi ke kantor Gubernur adalah karena tersumbatnya komunikasi dengan
pemkot. Pemkot Semarang tidak pernah mengakomodir aspirasi para pedagang
* Pemerintah harus dapat mengambil solusi, yaitu dengan memperhatikan kepentingan
pedagang
* Tidak berhasilnya para investor membangun pasar dapat dilihat dari kondisi Pasar
Dargo saat ini dan Pasar SCJ yang dibangun menjadi Matahari Johar, yang sekarang
sudah tutup.
* Aksi ini murni aspirasi pedagang dan non politis. Selain itu juga menindak lanjuti
kunjungan kerja wapres beberapa waktu yang lalu. (ayu)
Pada tanggal 5 Juni 2009 para pedagang Pasar Kanjengan memerima surat dari PT. Pagar Gunung Kencana untuk melakukan pengosongan Blok C dan Blok D. Dan pada 15 Juni 2009 PT. Pagar Gunung Kencana akan membongkar Blok C dan Blok D. Selanjutnya, Pasar Yaik akan direlokasi dan dijadikan satu dengan Pasar Johar menjadi bangunan 6 lantai. Sedangkan bangunan lama Pasar Johar akan dijadikan tempat pameran kuliner.
Lokasi baru bagi pedagang Pasar Kanjengan yang diberikan oleh Dinas Pasar adalah :
* Pasar pagi akan dipindahkan ke tempat parkir lantai 3 dan 4
* Toko emas dan mutiara akan dipindahkan di SCJ
* Buah akan dipindahkan ke rejomulyo
Unggas akan dipondahkan ke wilayah pedurungan
Ketua Umum AMPEKJOS, Bp Mudasir menyatakan antara lain :
* Terjadinya aksi ke kantor Gubernur adalah karena tersumbatnya komunikasi dengan
pemkot. Pemkot Semarang tidak pernah mengakomodir aspirasi para pedagang
* Pemerintah harus dapat mengambil solusi, yaitu dengan memperhatikan kepentingan
pedagang
* Tidak berhasilnya para investor membangun pasar dapat dilihat dari kondisi Pasar
Dargo saat ini dan Pasar SCJ yang dibangun menjadi Matahari Johar, yang sekarang
sudah tutup.
* Aksi ini murni aspirasi pedagang dan non politis. Selain itu juga menindak lanjuti
kunjungan kerja wapres beberapa waktu yang lalu. (ayu)
Kamis, 11 Juni 2009
Sejumlah LSM Mendukung Usulan Hutan Desa Teluk Binjai
IBN-PEKANBARU-Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) mendukung keinginan masyarakat Desa Teluk Binjai, Kecamatan Teluk Meranti, Pelalawan untuk memperoleh hak hutan desa seluas 5 ribu hektar. Dukungan itu ditegaskan Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau, Aliansi Masyarakat Adat Riau (AMAR) dan Greenpeace Asia Tenggara.
Sebelumnya pada hari Selasa 9 Juni 2009, warga Desa Teluk Binjai bertemu dengan Asisten 1 Pemkab Pelalawan, Edi Suryandi yang memberikan dukungannya atas usulan warga. Desa Teluk Binjai sendiri memiliki luas wilayah 24.116 hektar di antara hutan Semenanjung Kampar dan Suaka Marga Satwa Kerumutan dan dibelah Sungai Kampar di bagian tengahnya.
Saat ini untuk mempertahankan kehidupannya, warga memanfaatkan lahan pertanian di sekitar pemukiman. Lahan tersebut kini semakin sempit lahan konsesi perusahaan bubur kertas. Sementara hutan desa yang diusulkan 5 ribu hektare dan terletak di seberang sungai.
Menurut Koordinator Jikalahari, Susanto Kurniawan di Pekanbaru, Kamis (11/6), keinginan warga Desa Teluk Binjai untuk mengelola hutan rawa gambut Semenanjung Kampar merupakan inisiatif masyarakat yang harus diapresiasi semua pihak. Pengelolaan hutan desa sebuah langkah baik dalam upaya nyata menjamin sumber pencaharian warga Teluk Binjai yang mayoritas sebagai petani dan nelayan.
“Hutan yang akan dikelola itu merupakan bagian dari sisa hutan Semenanjung Kampar yang masih alami dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Sedangkan saat ini Semenanjung Kampar terancam rusak oleh aktifitas konsesi dari perusahaan bubur kertas dan pembuatan kanal oleh program pemerintah provinsi yang alirannya tembus ke Sungai Kampar,” kata Susanto.
Direktur Eksekutif WALHI Provinsi Riau, Hariansyah Usman mengatakan, hutan desa sangat penting bagi warga karena lahan pertanian yang tersisa di daerah pemukiman semakin sempit. Jika ini tidak diakomodir oleh departemen terkait di pemerintah pusat, maka kehidupan masyarakat akan semakin sulit.
“Jika desa mendapat hak pengelolaan, maka warga desa bisa membuat perencanaan bagi keberlangsungan hidup mereka yang lebih baik. Usulan warga ini sesuai dengan Permenhut Nomor 49 Tahun 2008 tentang Hutan Desa,” kata Hariansyah.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Zulfahmi mengatakan, usulan hutan desa suatu inisiatif yang sangat baik. Karena Greenpeace yakin masyarakat sebenarnya mampu melakukan pengelolaan hutan secara lestari namun selama ini mereka tidak diberiakses untuk mengelola sehingga kebanyakan kantong-kantong kemiskinan berada disekitar dan di kawasan hutan.
”Kami mengharapkan kepada pemerintah agar memberi kesempatan kepada masyarakat Teluk Binjai untuk membuktikan bahwa mereka mampu melakukan pengelolaan hutan secara lestari,” ujar ZUlfahmi
Sementara itu Fatra Budianto, Sekretaris Pelaksana Aliansi Masyarakat Adat Riau (AMAR) mengatakan, pihaknya mendukung usulan tersebut untuk mewujudkan partisipasi masyarakat desa dalam mengelola hutan mereka secara langsung dan mandiri. Ketika wilayah kelola masyarakat diakui maka mereka dapat mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik dan bermartabat secara budaya.(anto)
Sebelumnya pada hari Selasa 9 Juni 2009, warga Desa Teluk Binjai bertemu dengan Asisten 1 Pemkab Pelalawan, Edi Suryandi yang memberikan dukungannya atas usulan warga. Desa Teluk Binjai sendiri memiliki luas wilayah 24.116 hektar di antara hutan Semenanjung Kampar dan Suaka Marga Satwa Kerumutan dan dibelah Sungai Kampar di bagian tengahnya.
Saat ini untuk mempertahankan kehidupannya, warga memanfaatkan lahan pertanian di sekitar pemukiman. Lahan tersebut kini semakin sempit lahan konsesi perusahaan bubur kertas. Sementara hutan desa yang diusulkan 5 ribu hektare dan terletak di seberang sungai.
Menurut Koordinator Jikalahari, Susanto Kurniawan di Pekanbaru, Kamis (11/6), keinginan warga Desa Teluk Binjai untuk mengelola hutan rawa gambut Semenanjung Kampar merupakan inisiatif masyarakat yang harus diapresiasi semua pihak. Pengelolaan hutan desa sebuah langkah baik dalam upaya nyata menjamin sumber pencaharian warga Teluk Binjai yang mayoritas sebagai petani dan nelayan.
“Hutan yang akan dikelola itu merupakan bagian dari sisa hutan Semenanjung Kampar yang masih alami dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Sedangkan saat ini Semenanjung Kampar terancam rusak oleh aktifitas konsesi dari perusahaan bubur kertas dan pembuatan kanal oleh program pemerintah provinsi yang alirannya tembus ke Sungai Kampar,” kata Susanto.
Direktur Eksekutif WALHI Provinsi Riau, Hariansyah Usman mengatakan, hutan desa sangat penting bagi warga karena lahan pertanian yang tersisa di daerah pemukiman semakin sempit. Jika ini tidak diakomodir oleh departemen terkait di pemerintah pusat, maka kehidupan masyarakat akan semakin sulit.
“Jika desa mendapat hak pengelolaan, maka warga desa bisa membuat perencanaan bagi keberlangsungan hidup mereka yang lebih baik. Usulan warga ini sesuai dengan Permenhut Nomor 49 Tahun 2008 tentang Hutan Desa,” kata Hariansyah.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Zulfahmi mengatakan, usulan hutan desa suatu inisiatif yang sangat baik. Karena Greenpeace yakin masyarakat sebenarnya mampu melakukan pengelolaan hutan secara lestari namun selama ini mereka tidak diberiakses untuk mengelola sehingga kebanyakan kantong-kantong kemiskinan berada disekitar dan di kawasan hutan.
”Kami mengharapkan kepada pemerintah agar memberi kesempatan kepada masyarakat Teluk Binjai untuk membuktikan bahwa mereka mampu melakukan pengelolaan hutan secara lestari,” ujar ZUlfahmi
Sementara itu Fatra Budianto, Sekretaris Pelaksana Aliansi Masyarakat Adat Riau (AMAR) mengatakan, pihaknya mendukung usulan tersebut untuk mewujudkan partisipasi masyarakat desa dalam mengelola hutan mereka secara langsung dan mandiri. Ketika wilayah kelola masyarakat diakui maka mereka dapat mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik dan bermartabat secara budaya.(anto)
Demo warga menuntut perbaikan jalan Cikande-Rangkasbitung
Citeras, Lebak (11/06/09) Demo warga masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Pengemudi Bus Angkutan AKAP/AKDP Terminal Mandala, Rangkasbitung, kembali terjadi. Massa yang berjumlah sekitar 200 orang menuntut perbaikan jalan Cikande-Rangkasbitung (Cirabit) karena kondisinya sangat parah. Menurut Endi Karis, salah satu sopir Bus, mengatakan bahwa jalan Cirabit ini sudah rusak cukup parah dan banyak menimbulkan korban dari masyarakat. Hal ini dikarenakan sering dilewati truk pengangkut pasir dari tambang galian pasir di daerah Citeras sehingga kondisinya sudah tidak layak untuk dilewati kendaraan. Pada siang hari massa bergabung dengan massa dari Forum Peduli Masyarakat Jalan Cikande-Rangkasbitung, Aktivis STAI Assalamiyah, Persatuan Mahasiswa Jamilan (Permaja), dan Masyarakat Desa Cemplang Kecamatan Jamilan, Serang, yang berjumlah sekitar 300 orang. Massa akhirnya membubarkan diri setelah dilakukan mediasi dengan Ibu Retno ( Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Banten), Bpk. Bambang Supeno (Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten), dan Bpk. Sofyan (Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Lebak). Kesepakatan yang didapat antara lain akan menindaklanjuti aspirasi warga masyarakat dengan melakukan perbaikan jalan Cikande-Rangkasbitung dan mengusulkan kepada Bupati Lebak serta Gubernur Banten agar meninjau kembali perjanjian dengan pengusaha galian pasir untuk mengganti truk tronton dengan drum truk/colt diesel. (ian)
DPT Pilpres Aceh Turun 3.484 pemilih
Banda Aceh: DPT Pilpres untuk Provinsi Aceh(NAD) mangalami penurunan yang drastis yaitu dari 3.009.965 pemilih menjadi 3.006.481 pemilih, atau mengalami penyusutan sebesar 3.484 pemilih. Sedangkan Jumlah TPS total di Aceh untuk pilpres sebesar 9.590 buah. "Memang untuk jumlah DPT dan jumlah TPS di Provinsi Aceh untuk pilpres 2009 ini mengalami penyusutan," ujar Novia Liza, Media Assistant KIP Aceh.
Menurut Novia, penurunan jumlah TPS disebabkan karena terjadinya penambahan kapasitas jumlah tampung pemilih dari tiap TPS dari yang semula berjumlah 500 orang menjadi 800 orang per-TPS. "Jadi yang dulunya satu TPS dapat digunakan untuk 500 orang, sekarang telah menjadi 800 orang," lanjut gadis cantik berusia 24 tahun ini.
Selengkapnya, tentang data pilpres tiap kabupaten di NAD dapat dilihat pada tabel dibawah ini.No KAB/KOTA Total DPT Jumlah TPS
1 Banda Aceh 143148 380
2 Sabang 22455 60
3 Aceh Besar 230959 775
4 Pidie 266021 789
5 Pidie Jaya 94401 232
6 Aceh Barat 115167 478
7 Aceh Jaya 51756 177
8 Nagan Raya 94960 370
9 Gayo Luwes 51427 225
10 Aceh tenggara 122428 492
11 Aceh Singkil 62299 233
12 Subulusalam 37391 167
13 Aceh barat daya 89779 320
14 Aceh Selatan 140095 408
15 Simeulue 50889 191
16 Aceh tengah 115431 420
17 Bener meriah 78972 305
18 Bireuen 265758 678
19 Lhokseumawe 118880 280
20 Aceh utara 351992 996
21 Langsa 97618 244
22 Aceh Timur 233924 760
23 Aceh Tamiang 170731 610
TOTAL 3006481 9590
sumber: Komisi Independen Pemilihan(KIP) Aceh
(alfa R)
Menurut Novia, penurunan jumlah TPS disebabkan karena terjadinya penambahan kapasitas jumlah tampung pemilih dari tiap TPS dari yang semula berjumlah 500 orang menjadi 800 orang per-TPS. "Jadi yang dulunya satu TPS dapat digunakan untuk 500 orang, sekarang telah menjadi 800 orang," lanjut gadis cantik berusia 24 tahun ini.
Selengkapnya, tentang data pilpres tiap kabupaten di NAD dapat dilihat pada tabel dibawah ini.No KAB/KOTA Total DPT Jumlah TPS
1 Banda Aceh 143148 380
2 Sabang 22455 60
3 Aceh Besar 230959 775
4 Pidie 266021 789
5 Pidie Jaya 94401 232
6 Aceh Barat 115167 478
7 Aceh Jaya 51756 177
8 Nagan Raya 94960 370
9 Gayo Luwes 51427 225
10 Aceh tenggara 122428 492
11 Aceh Singkil 62299 233
12 Subulusalam 37391 167
13 Aceh barat daya 89779 320
14 Aceh Selatan 140095 408
15 Simeulue 50889 191
16 Aceh tengah 115431 420
17 Bener meriah 78972 305
18 Bireuen 265758 678
19 Lhokseumawe 118880 280
20 Aceh utara 351992 996
21 Langsa 97618 244
22 Aceh Timur 233924 760
23 Aceh Tamiang 170731 610
TOTAL 3006481 9590
sumber: Komisi Independen Pemilihan(KIP) Aceh
(alfa R)
DPC GMNI Semarang Raya menyatakan “Golput Aktif” terhadap Pilpres 2009
Pada 10 Juni 2009 pukul 14.30 di Fakultas Ekonomi UNDIP Jl Erlangga Semarang, Wakil Bidang Politik GMNI DPC Semarang Raya, Ramos H menyatakan bahwa GMNI DPC Semarang Raya mengambil sikap “Golput Aktif” terhadap Pilpres 2009, namun secara individu tetap membebaskan kepada anggota untuk ikut memilih atau tidak. Alasannya adalah :
1.
Megawati - Prabowo : ekonomi kerakyatan yang dibawa mega – pro sampai sat ini masih belum jelas.
2.
SBY - Budiyono : terkait dengan masalah neolib, walaupun neolib sudah terjadi sejak orde baru.
3.
JK – Wiranto : figur JK yg seorang pengusaha dan wiranto yang masih bermasalah dengan HAM.
1.
Megawati - Prabowo : ekonomi kerakyatan yang dibawa mega – pro sampai sat ini masih belum jelas.
2.
SBY - Budiyono : terkait dengan masalah neolib, walaupun neolib sudah terjadi sejak orde baru.
3.
JK – Wiranto : figur JK yg seorang pengusaha dan wiranto yang masih bermasalah dengan HAM.
Langganan:
Postingan (Atom)