Jakarta- 27/05/09 dalam diskusi yang rutin dilaksanakan di kedai tempo, Gus Dur mengatakan Perlu ada keseimbangan antara ekonomi kerakyatan dengan ekonomi Neoliberal dalam menjalankan negara. Hal ini diperlukan karena belum ada bukti bahwa ekonomi kerakyatan yang selama ini digembar-gemborkan para Capres-Cawapres terbukti berhasil. “Pemerintah harusnya melaksanakan keduanya (Ekonomi kerakyatan dan Neoliberal) agar terjadi keseimbangan dalam menjalankan negara."
Mantan orang nomer satu ini juga menyayangkan dan ikut berbelasungkawa atas jatuhnya pesawat Herkules, “Jatuhnya pesawat Herkules karena pemerintah kurang serius menangani masalah pertahanan dan banyaknya korupsi dana perawatan pesawat.”
Terkait pemilu legislatif yang baru diadakan belum lama ini ia menganggap kebanyakan caleg tidak membicarakan program kerja dalam kampanyenya, sehingga kinerjanya nanti kemungkinan besar tidak akan baik. “Baru kampanye saja sudah ngga’ jelas gimana kalau jadi anggota Dewan?” kata Gus Dur sambil berseloroh.
Mengenai Saya
- Indo Berita nusantara
- jakarta, selatan, Indonesia
- Indo Berita Nusantara merupakan situs berita internet yang memberikan informasi berbentuk berita diseluruh nusantara Alamat Jl. Joe. Gg. Kelapa Hijau Telp.(021)98265014 Anda punya berita atau informasi silahkan kirim ke e-mal : ibernas.jakarta@yahoo.com
Selasa, 26 Mei 2009
Aksi unjuk rasa oleh elemen yang tergabung dalam Gerakan Mega Pro Rakyat
Palembang-Indoberitanusantara
Tanggal 20 Mei 2009 pukul 09:45 wib s.d 10:10 wib di Bundaran Air Mancur, berlangsung aksi unjuk rasa oleh elemen masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Megawati-Prabowo (Mega Pro) Rakyat, terdiri dari LSM Miskin Kota, Eksponen 98, LSM Perempuan, Mahasiswa Universitas Terbuka, Ormas Seberang Ulu I Kota Palembang, diikuti oleh sekitar 60 orang, dipimpin oleh Arya Laksana (Mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Fak. Sospol Jur. Komunikasi Semester 6), Deka Aries (Aktivis 96-97 tergabung dalam Ormas), Arifin Kalender (LSM Miskin Kota), Tommy, R (Eksponen 98), Wulan (LSM Perempuan), terkait deklarasi mendukung Capres dan Cawapres Megawati- Prabowo pada Pilpres 8 Juli 2009
Para pengunjuk rasa tiba di Bundaran Air Mancur dan langsung menggelar Spanduk, gambar Megawati Soekarnoputri-Prabowo, dan Pamplet yang bertuliskan ”Gerakan Mega Pro Rakyat.”, ”Gerakan Megawati Soekarno Putri-Prabowo Subiakto bersama rakyat.”
Arifin Kalender (LSM Miskin Kota), dalam orasinya mengatakan “Kami yang tergabung dalam Gerakan Mega Pro Rakyat bertekad dan berniat mendukung Capres dan Cawapres Megawati-Prabowo.”, ”Kami melihat bahwa konsepnya dalam memimpin Negara Indonesia kedepan sudah sangat terarah.”
Wulan (LSM Perempuan), dalam orasinya mengatakan “Perubahan suatu bangsa terletak pada proses dialektika pada aras massa rakyat, dari, oleh dan untuk rakyat menjadi suatu tujuan utama perjuangan gerakan sosial kita. Seluruh rakyat Indonesia.”, “Pemimpin suatu negara adalah representasi dari keterwakilan kepentingan rakyat untuk dilindungi, diakomodir dan dikonkritkan dalam kerja nyata program Pemerintah, kini saatnya rezim baru dengan paradigm baru menyatu bersama rakyat, menjadi sebuah orde transisi yang dapat menuju kearah perubahan social yang massif berbasiskan kedaulatan rakyat.”, “Pemilihan Presiden Republik Indonesia periode 2009 s.d 2014 harus rakyat yang menang melalui kemenangan pasangan Megawati dan Prabowo melalui Gerakan Mega Pro Rakyat, dan kami menganggap perlu untuk menyampaikan hal-hal mengenai fakta bangsa Indonesia, yaitu :
a) Dalam beberapa dekade, mulai orde lama, orde baru, orde reformasi. Tidak mampu membawa rakyat Indonesia memasuki gerbang kesejahteraan. Fakta yang ada malah perekonomian semakin terpuruk.
b) Elit politik dan elit Pemerintah hanya mengutamakan kepentingan kelompok dan golongan yang memposisikan kepentingan rakyat hanya sebagai objek kampanye untuk popularitas. Faktanya elit politik dan birokrasi pemerintah ikut menyumbang perputaran siklus uang yang hanya mengalir kepada kelompok tertentu sehingga tidak terjadi siklus distribusi ekonomi yang merata. Orientasi kekuasaan hanya mengejar posisi strategis dalam jabatan Pemerintah yang menjadikan suatu scenario KKN, Pungli, dan Gratifikasi.
c) Maraknya kasus korupsi hampir diseluruh aspek pemerintahan yang menajadikan isu korupsi sebuah trend untuk mendapatkan logistic dengan cara melawan hukum. Adanya indikasi pelemahan system penegakan kasus korupsi dapat kita lihat dengan jelas bagaimana peran satuan tipikor, Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang melakukan penyelidikan dan penegakan kasus secara tebang pilih.
d) Ketergantungan secara ekonomi pada pihak asing menjadi dominan. Ini menyebabkan ekonomi Indonesia tidak mempunyai kemandirian dan kekuatan ekonomi. Pemerintah hingga hari ini menimbulkan hutang negara yang kian melambung.
e) Menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk bergabung bersama kami menyuarakan dan memenangkan Gerakan Mega Pro Rakyat.
f) Kami Gerakan Mega Pro Rakyat yang terdiri dari seluruh elemen rakyat (mahasiswa, pemuda, pelajar, kelompok profesi, pengusaha, kaum tani, buruh, nelayan, sector informal, pedangang kecil, masyarakat miskin kota, kelompok usaha kecil, dll) harus segera kembali mengkonsolidasikan diri. Dengan demikian Indonesia Raya dapat kembali bangkit, hari ini momentum tanggal 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional kita wujudkan dengan kembali mulai dari titik nol, kembalikan kekuasaan ke tangan rakyat. Kita wujudkan cita-cita para pendiri bangsa.
g) Kami menganggap dengan pemenangan pasangan Mega Pro dapat membawa kea rah perubahan yang kita inginkan dan kita cita-citakan bersama. Saatnya rakyat merebut kekuasaan melalui representasi ketokohan yang terbukti dapat berjuang bersama seluruh rakyat Indonesia raya dengan pemenangan pasangan Mega Pro untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Priode 2009 s.d 2014.
Arya Laksana (Mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Fakultas Sosial Politik Jurusan Komunikasi Semester 6), dalam wawancara mengatakan “Deklarasi ini bertujuan untuk mendukung pasangan Capres dan Cawapres Mega Pro, karena mereka kami nilai layak dan mampu untuk membawa bangsa Indonesia dimasa mendatang menjadi lebih baik lagi.”, ”Program dari pasangan Capres dan Cawapres Mega Pro sudah sangat jelas yaitu terkonsentrasi pada sembako murah, pembukaan lapangan pekerjaan, dan komitmen Prabowo dengan inisiatif-nya membeli sejumlah Kebun Kelapa Sawit agar perekonomian negara Indonesia tetap setabil.
Diakhir orasi, masa melakukan penandatanganan sebagai bukti mendukung pasangan Capres dan Cawapres Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subiakto di atas kain berwarna putih yang panjangan sekitar 5 meter.(nunu)
Tanggal 20 Mei 2009 pukul 09:45 wib s.d 10:10 wib di Bundaran Air Mancur, berlangsung aksi unjuk rasa oleh elemen masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Megawati-Prabowo (Mega Pro) Rakyat, terdiri dari LSM Miskin Kota, Eksponen 98, LSM Perempuan, Mahasiswa Universitas Terbuka, Ormas Seberang Ulu I Kota Palembang, diikuti oleh sekitar 60 orang, dipimpin oleh Arya Laksana (Mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Fak. Sospol Jur. Komunikasi Semester 6), Deka Aries (Aktivis 96-97 tergabung dalam Ormas), Arifin Kalender (LSM Miskin Kota), Tommy, R (Eksponen 98), Wulan (LSM Perempuan), terkait deklarasi mendukung Capres dan Cawapres Megawati- Prabowo pada Pilpres 8 Juli 2009
Para pengunjuk rasa tiba di Bundaran Air Mancur dan langsung menggelar Spanduk, gambar Megawati Soekarnoputri-Prabowo, dan Pamplet yang bertuliskan ”Gerakan Mega Pro Rakyat.”, ”Gerakan Megawati Soekarno Putri-Prabowo Subiakto bersama rakyat.”
Arifin Kalender (LSM Miskin Kota), dalam orasinya mengatakan “Kami yang tergabung dalam Gerakan Mega Pro Rakyat bertekad dan berniat mendukung Capres dan Cawapres Megawati-Prabowo.”, ”Kami melihat bahwa konsepnya dalam memimpin Negara Indonesia kedepan sudah sangat terarah.”
Wulan (LSM Perempuan), dalam orasinya mengatakan “Perubahan suatu bangsa terletak pada proses dialektika pada aras massa rakyat, dari, oleh dan untuk rakyat menjadi suatu tujuan utama perjuangan gerakan sosial kita. Seluruh rakyat Indonesia.”, “Pemimpin suatu negara adalah representasi dari keterwakilan kepentingan rakyat untuk dilindungi, diakomodir dan dikonkritkan dalam kerja nyata program Pemerintah, kini saatnya rezim baru dengan paradigm baru menyatu bersama rakyat, menjadi sebuah orde transisi yang dapat menuju kearah perubahan social yang massif berbasiskan kedaulatan rakyat.”, “Pemilihan Presiden Republik Indonesia periode 2009 s.d 2014 harus rakyat yang menang melalui kemenangan pasangan Megawati dan Prabowo melalui Gerakan Mega Pro Rakyat, dan kami menganggap perlu untuk menyampaikan hal-hal mengenai fakta bangsa Indonesia, yaitu :
a) Dalam beberapa dekade, mulai orde lama, orde baru, orde reformasi. Tidak mampu membawa rakyat Indonesia memasuki gerbang kesejahteraan. Fakta yang ada malah perekonomian semakin terpuruk.
b) Elit politik dan elit Pemerintah hanya mengutamakan kepentingan kelompok dan golongan yang memposisikan kepentingan rakyat hanya sebagai objek kampanye untuk popularitas. Faktanya elit politik dan birokrasi pemerintah ikut menyumbang perputaran siklus uang yang hanya mengalir kepada kelompok tertentu sehingga tidak terjadi siklus distribusi ekonomi yang merata. Orientasi kekuasaan hanya mengejar posisi strategis dalam jabatan Pemerintah yang menjadikan suatu scenario KKN, Pungli, dan Gratifikasi.
c) Maraknya kasus korupsi hampir diseluruh aspek pemerintahan yang menajadikan isu korupsi sebuah trend untuk mendapatkan logistic dengan cara melawan hukum. Adanya indikasi pelemahan system penegakan kasus korupsi dapat kita lihat dengan jelas bagaimana peran satuan tipikor, Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang melakukan penyelidikan dan penegakan kasus secara tebang pilih.
d) Ketergantungan secara ekonomi pada pihak asing menjadi dominan. Ini menyebabkan ekonomi Indonesia tidak mempunyai kemandirian dan kekuatan ekonomi. Pemerintah hingga hari ini menimbulkan hutang negara yang kian melambung.
e) Menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk bergabung bersama kami menyuarakan dan memenangkan Gerakan Mega Pro Rakyat.
f) Kami Gerakan Mega Pro Rakyat yang terdiri dari seluruh elemen rakyat (mahasiswa, pemuda, pelajar, kelompok profesi, pengusaha, kaum tani, buruh, nelayan, sector informal, pedangang kecil, masyarakat miskin kota, kelompok usaha kecil, dll) harus segera kembali mengkonsolidasikan diri. Dengan demikian Indonesia Raya dapat kembali bangkit, hari ini momentum tanggal 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional kita wujudkan dengan kembali mulai dari titik nol, kembalikan kekuasaan ke tangan rakyat. Kita wujudkan cita-cita para pendiri bangsa.
g) Kami menganggap dengan pemenangan pasangan Mega Pro dapat membawa kea rah perubahan yang kita inginkan dan kita cita-citakan bersama. Saatnya rakyat merebut kekuasaan melalui representasi ketokohan yang terbukti dapat berjuang bersama seluruh rakyat Indonesia raya dengan pemenangan pasangan Mega Pro untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Priode 2009 s.d 2014.
Arya Laksana (Mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Fakultas Sosial Politik Jurusan Komunikasi Semester 6), dalam wawancara mengatakan “Deklarasi ini bertujuan untuk mendukung pasangan Capres dan Cawapres Mega Pro, karena mereka kami nilai layak dan mampu untuk membawa bangsa Indonesia dimasa mendatang menjadi lebih baik lagi.”, ”Program dari pasangan Capres dan Cawapres Mega Pro sudah sangat jelas yaitu terkonsentrasi pada sembako murah, pembukaan lapangan pekerjaan, dan komitmen Prabowo dengan inisiatif-nya membeli sejumlah Kebun Kelapa Sawit agar perekonomian negara Indonesia tetap setabil.
Diakhir orasi, masa melakukan penandatanganan sebagai bukti mendukung pasangan Capres dan Cawapres Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subiakto di atas kain berwarna putih yang panjangan sekitar 5 meter.(nunu)
Senin, 25 Mei 2009
Panggung Rakyat dan Mimbar Bebas Aliansi Rakyat
Denpasar, (25/5/2009). ara aktivis gabungan (Frontier, PMKRI Denpasar, GMS,FMN, LMND, GMNI, Waroeng Kiri, BEM Univ. Udayana, BEM Undiknas, HMPE Univ. Udayana, Revol’ISI, Mapala Giri Sakti UNHI, BEM Fisip Unwar, PBHI Denpasar, Walhi, Sawa, Manikaya, FKPB, Sorkit ) (21/5/2009) berkumpul di depan Kampus Udayana untuk menggelar panggung rakyat dan mimbar bebas yang bertujuan mengkritik kinerja pemerintah selama 11 tahun reformasi pasca turunnya Presiden Soeharto. Roby selaku Koordinator ARDHAM memberi pernyataan saat jumpa pers antara lain: 1.Reformasi saat ini dinilai gagal, 2. beberapa kasus HAM masa lalu (penghilangan paksa, pembantaian aktivis, dan kerusuhan berdarah 1998) hingga saat ini tidak tuntas dan hilang ditengah gemuruh nafsu politik kekuasaan, 3. Korupsi yang mewabah dari pusat hingga desa-desa, perampasan upah buruh, pengerusakan lingkungan hidup, 4.munculnya undang-undang yang ekploitatif dan jauh dari keadilan (UU Pornografi, UU Badan Hukum Pendidikan, 3 Paket UU Ketenagakerjaan), 5.terjebaknya Indonesia dalam jeratan hutang luar negeri yang berdampak krisis keuangan dimana-mana. Acara ini dihadiri tidak kurang dari 30 orang aktivis dan berlangsung dengan tertib. Untuk acara Panggung Rakyat dan Mimbar Bebas dikemas dalam 2 pertunjukan yaitu orasi dan pentas seni (pembacaan puisi, menyanyikan lagu-lagu reformasi). (Jl3o)
Jumat, 22 Mei 2009
Palembang-indoberitanusantara
Jam 11:00 wib s.d 12:15 wib di Kampus IAIN Raden Fatah, berlangsung aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh elemen mahasiswa tergabung dalam Gempar Indonesia (Gerakan Mahasiswa Peduli Republik Indonesia), dengan jumlah sekitar 50 orang, dipimpin oleh : Abu Bakar Sidik (Korak/Fak.Tarbiah jurusan hukum perdata IAIN RF Palembang), Ibrahim (Korlap/Fak. Tarbiah jurusan perbandingan mazhab dan hukum syariah IAIN RF Palembang.
masalah yang diangkat adalah mengenai kejelasan DPS dan mengajak masyarakat untuk menjadi pemilih aktif dalam Pilpres 2009.
Aksi dimulai Pukul 10:00 wib, dengan pengunjuk rasa berkumpul dilapangan Kampus IAIN, dan langsung menggelar spanduk dan pamplet yang bertuliskan ”Selamatkan Pilpres kita semoga KPU lekas sembuh.”, ”Pastikan nama anda terdaftar di DPS 11-17 Mei 2009.”, ”Golput No Way.”, ”KPU gagal bubarkan KPU.”, ”Hari gini golput...apa kata dunia.”, ”Pilpres pesta kita semua.”, ”Mahasiswa juga punya hak pilih pada Pilpres 8 Juli 2009.”, ”Suara kita menentukan nasib bangsa kita kedepan.”. Serta melakukan orasi yang intinya : meminta pemuktahiran data dan kejelasan masalah DPS dari KPU, mahasiswa harus pro aktif dalam melihat DPS, karena mahasiswa juga punya hak pilih pada Pilpres 8 Juli 2009.
Selanjutnya pada pukul 10:30 wib, pengunjuk rasa bergerak menuju Bundaran Pasar Cinde dengan menggunakan transportasi bus kota. Setelah tiba, massa langsung menggelar spanduk dan pamplet yang isinya sama seperti aksi di Kampus IAIN.
Abu bakar Sidik (Korak) dalam orasinya mengatakan : ”Tujuan kami adalah meminta kejelasan tentang DPS 8 Juli 2009 dan pemuktahiran data dari KPU. Jika KPU tidak memperdulikan maka kami akan memboikot Pemilu 2009 dengan cara kami akan golput.”, ”Pemilu ini merupakan kepentingan kami, bukan hanya kepentingan segelintir elit politik, karena Pesta Pemilu 2009 ini adalah milik kita semua.”, ”KPU ternyata tidak bisa menjalankan tugasnya, lebih baik dibubarkan saja.”, ”Kami tidak akan pernah lelah dalam memperjuangkan aspirasi rakyat, karena mereka harus sejahtera.
Ibrahim (Korlap) dalam orasinya mengatakan : ”Pemilu ini ternyata bukan dimenangkan oleh rakyat, tapi milik segelintir elit politik.”, ”Jangan hanya masyarakat yang pro aktif, namun Pemerintah dan KPU juga harus pro aktif mensosialisasikan DPS ini ke masyarakat.”, ”Sampai saat ini tidak ada anggota KPU yang kelapangan untuk mengecek DPS di masyarakat.”
Kemudian pada pukul 11:00 wib, pengunjuk rasa long march menuju Bundaran Air Mancur, sambil membagi-bagikan selebaran kepada para pengguna jalan di sepanjang jl. Jendral Sudirman yang berisi, Pemilu legislatif 9 April 2009 memang sudah lewat, tapi sayang pemenang sejatinya adalah golput, puluhan juta rakyat tidak bisa mendapatkan hak-haknya, hanya dikarenakan tidak profesionalnya KPU dalam menjalankan tugasnya. Untuk Pemilu 9 Juli 2009, belum ada kata terlambat, jika KPU dan Pemerintah memang mempunyai itikad baik untuk merubah nasib bangsa, maka KPU dan Pemerintah kami sarankan untuk lebih aktif lagi memberikan informasi tentang DPT ini. Karena suara rakyat adalah menentukan arah bangsa lima tahun kedepan.(08)
masalah yang diangkat adalah mengenai kejelasan DPS dan mengajak masyarakat untuk menjadi pemilih aktif dalam Pilpres 2009.
Aksi dimulai Pukul 10:00 wib, dengan pengunjuk rasa berkumpul dilapangan Kampus IAIN, dan langsung menggelar spanduk dan pamplet yang bertuliskan ”Selamatkan Pilpres kita semoga KPU lekas sembuh.”, ”Pastikan nama anda terdaftar di DPS 11-17 Mei 2009.”, ”Golput No Way.”, ”KPU gagal bubarkan KPU.”, ”Hari gini golput...apa kata dunia.”, ”Pilpres pesta kita semua.”, ”Mahasiswa juga punya hak pilih pada Pilpres 8 Juli 2009.”, ”Suara kita menentukan nasib bangsa kita kedepan.”. Serta melakukan orasi yang intinya : meminta pemuktahiran data dan kejelasan masalah DPS dari KPU, mahasiswa harus pro aktif dalam melihat DPS, karena mahasiswa juga punya hak pilih pada Pilpres 8 Juli 2009.
Selanjutnya pada pukul 10:30 wib, pengunjuk rasa bergerak menuju Bundaran Pasar Cinde dengan menggunakan transportasi bus kota. Setelah tiba, massa langsung menggelar spanduk dan pamplet yang isinya sama seperti aksi di Kampus IAIN.
Abu bakar Sidik (Korak) dalam orasinya mengatakan : ”Tujuan kami adalah meminta kejelasan tentang DPS 8 Juli 2009 dan pemuktahiran data dari KPU. Jika KPU tidak memperdulikan maka kami akan memboikot Pemilu 2009 dengan cara kami akan golput.”, ”Pemilu ini merupakan kepentingan kami, bukan hanya kepentingan segelintir elit politik, karena Pesta Pemilu 2009 ini adalah milik kita semua.”, ”KPU ternyata tidak bisa menjalankan tugasnya, lebih baik dibubarkan saja.”, ”Kami tidak akan pernah lelah dalam memperjuangkan aspirasi rakyat, karena mereka harus sejahtera.
Ibrahim (Korlap) dalam orasinya mengatakan : ”Pemilu ini ternyata bukan dimenangkan oleh rakyat, tapi milik segelintir elit politik.”, ”Jangan hanya masyarakat yang pro aktif, namun Pemerintah dan KPU juga harus pro aktif mensosialisasikan DPS ini ke masyarakat.”, ”Sampai saat ini tidak ada anggota KPU yang kelapangan untuk mengecek DPS di masyarakat.”
Kemudian pada pukul 11:00 wib, pengunjuk rasa long march menuju Bundaran Air Mancur, sambil membagi-bagikan selebaran kepada para pengguna jalan di sepanjang jl. Jendral Sudirman yang berisi, Pemilu legislatif 9 April 2009 memang sudah lewat, tapi sayang pemenang sejatinya adalah golput, puluhan juta rakyat tidak bisa mendapatkan hak-haknya, hanya dikarenakan tidak profesionalnya KPU dalam menjalankan tugasnya. Untuk Pemilu 9 Juli 2009, belum ada kata terlambat, jika KPU dan Pemerintah memang mempunyai itikad baik untuk merubah nasib bangsa, maka KPU dan Pemerintah kami sarankan untuk lebih aktif lagi memberikan informasi tentang DPT ini. Karena suara rakyat adalah menentukan arah bangsa lima tahun kedepan.(08)
Bionic Commando Rearmed
by: Sandra Prior
Remember the 80s? Well, they're back and everyone should be wearing big stupid sunglasses, Back to the Future sneakers and listening to Duran Duran going on about how great they really were. And they also should be playing Bionic Commando Rearmed, a faithful remake of 1988 NES classic Bionic Commando.
The game sees you taking control of Nathan ‘Radd’ Spencer, who looks like a ginger-coiffured version of Michael Biehn. For some reason Spencer has a bionic grappling hook instead of a right arm, which has also rendered him incapable of jumping. So rather than leaping from platform to platform, you have to use the bionic arm to latch onto the landscape and then hurl yourself off. At first it feels clunky, but after a few levels you'll be flinging yourself around the platforms gracefully.
As with the original, the game isn't limited to side-scrolling platforming. You're transported from level to level by a helicopter pilot, but as you do so your path can be interrupted by enemy trucks. You're forced to land, and Spencer has to fight off enemies in a top-down landscape. Although all these levels follow roughly the same format, they're still great fun.
In terms of tone, the game is pitch perfect. It feels like the game the original devs had in mind when they were making it 20 years ago: airbrushed artwork, brightly colored, brash and cheesy as a cheddary hell. Like the motocross game, Trials 2, this is nostalgic gaming given a post-millennial makeover, with nicely rendered characters, decent lighting, 3D backdrops and ragdoll physics. And it's got an awesome 8-bit soundtrack, which faithfully updates the original score but also makes it sound like Daft Punk.
It's quite astonishing just how solid the game's central mechanic still is. It feels like the 80s equivalent of Portal, in that it took a genre and fundamentally changed a single element, which resulted in surprisingly varied gameplay. As with Valve's weird shooter, the key to Rearmed is timing. Portal's influence is also evident in the newly-added test chambers, completed using your grappling hand and sheer dexterity.
Old School Multiplay
In addition to the single player missions. Rearmed also includes a non-networked multiplayer mode. Pleasingly (to me, at least), this involves sharing a keyboard with your opponents, chucking up memories of jostling around a mate's monitor to play Bomberman. Of course, playing online would be preferable, but plugging in a few extra pads is an option.
Co-op has also been added to the game. It works best on a widescreen monitor, as if one player ventures too far off-screen, it's split vertically. It's a little disorientating at first, but the mode itself is good fun. Developers Grin have put a lot in to making the game appealing to social gamers, and I can imagine Rearmed becoming as essential as Steers after a night out. But it's not without a few setbacks. It's limited by its very nature, and in being a direct remake it reminds you just how bloody punishing and unforgiving gaming was in its early days: no save points, just three lives gone and it's all over. This is the first game I've played this millennium that includes extra lives; a concept so long lost in my memory that it filled me with fuzzy warmth.
It's not going to be to everyone's tastes, but it is a bit of throwaway rose-tinted fun, and probably the most perfectly-realized slice of retro indulgence since Defcon. That is, until someone remakes Flashback, when 90s nostalgia kicks in.
Remember the 80s? Well, they're back and everyone should be wearing big stupid sunglasses, Back to the Future sneakers and listening to Duran Duran going on about how great they really were. And they also should be playing Bionic Commando Rearmed, a faithful remake of 1988 NES classic Bionic Commando.
The game sees you taking control of Nathan ‘Radd’ Spencer, who looks like a ginger-coiffured version of Michael Biehn. For some reason Spencer has a bionic grappling hook instead of a right arm, which has also rendered him incapable of jumping. So rather than leaping from platform to platform, you have to use the bionic arm to latch onto the landscape and then hurl yourself off. At first it feels clunky, but after a few levels you'll be flinging yourself around the platforms gracefully.
As with the original, the game isn't limited to side-scrolling platforming. You're transported from level to level by a helicopter pilot, but as you do so your path can be interrupted by enemy trucks. You're forced to land, and Spencer has to fight off enemies in a top-down landscape. Although all these levels follow roughly the same format, they're still great fun.
In terms of tone, the game is pitch perfect. It feels like the game the original devs had in mind when they were making it 20 years ago: airbrushed artwork, brightly colored, brash and cheesy as a cheddary hell. Like the motocross game, Trials 2, this is nostalgic gaming given a post-millennial makeover, with nicely rendered characters, decent lighting, 3D backdrops and ragdoll physics. And it's got an awesome 8-bit soundtrack, which faithfully updates the original score but also makes it sound like Daft Punk.
It's quite astonishing just how solid the game's central mechanic still is. It feels like the 80s equivalent of Portal, in that it took a genre and fundamentally changed a single element, which resulted in surprisingly varied gameplay. As with Valve's weird shooter, the key to Rearmed is timing. Portal's influence is also evident in the newly-added test chambers, completed using your grappling hand and sheer dexterity.
Old School Multiplay
In addition to the single player missions. Rearmed also includes a non-networked multiplayer mode. Pleasingly (to me, at least), this involves sharing a keyboard with your opponents, chucking up memories of jostling around a mate's monitor to play Bomberman. Of course, playing online would be preferable, but plugging in a few extra pads is an option.
Co-op has also been added to the game. It works best on a widescreen monitor, as if one player ventures too far off-screen, it's split vertically. It's a little disorientating at first, but the mode itself is good fun. Developers Grin have put a lot in to making the game appealing to social gamers, and I can imagine Rearmed becoming as essential as Steers after a night out. But it's not without a few setbacks. It's limited by its very nature, and in being a direct remake it reminds you just how bloody punishing and unforgiving gaming was in its early days: no save points, just three lives gone and it's all over. This is the first game I've played this millennium that includes extra lives; a concept so long lost in my memory that it filled me with fuzzy warmth.
It's not going to be to everyone's tastes, but it is a bit of throwaway rose-tinted fun, and probably the most perfectly-realized slice of retro indulgence since Defcon. That is, until someone remakes Flashback, when 90s nostalgia kicks in.
Jumat, 15 Mei 2009
PPP merapat ke Demokrat
Palembang, 14/5 tanda-tanda PPP kemana akan berkoalisi sudah mulai jelas terlihat akan merapat kepada partai Demokrat, hal ini dikatakan oleh Kepala Sekertariat DPW PPP Sumsel Kgs An Ganevo di Kantor DPW PPP Sumsel “Dalam rapat intern beberapa waktu lalu untuk koalisi sudah mengarah kepada partai yang mengusung SBY sebagai wapres yaitu Partai Demokrat walaupun keputusan final belum dideklarasikan secara resmi tapi dalam waktu dekat ini segera akan diumumkan”
Juga ditambahkan olehnya “Belum ditentukan siapa yang akan diusung PPP sebagai wapres. Tapi sampai saat ini PPP tidak pernah meminta jatah kursi baik yang duduk di Parlemen maupun Wapres karena itu semua adalah hak SBY untuk memilih”
Terkait dengan berita pencalonan Budiono sebagai cawapres oleh SBY juga tidak di permasalahkan PPP, walaupun ada baiknya untuk cawapres yang terpilih harus dari persetujuan partai yang ikut berkolisi tambahnya (nunu)
Juga ditambahkan olehnya “Belum ditentukan siapa yang akan diusung PPP sebagai wapres. Tapi sampai saat ini PPP tidak pernah meminta jatah kursi baik yang duduk di Parlemen maupun Wapres karena itu semua adalah hak SBY untuk memilih”
Terkait dengan berita pencalonan Budiono sebagai cawapres oleh SBY juga tidak di permasalahkan PPP, walaupun ada baiknya untuk cawapres yang terpilih harus dari persetujuan partai yang ikut berkolisi tambahnya (nunu)
Langganan:
Postingan (Atom)