Banyaknya hak pilih yang tidak digunkan hampir mencapai 50 %. contohnya TPS 20, RT 005 RW 006 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari Jakarta Barat. Jumlah DPT 270 orang, jumlah warga yang ikut memilih 247 orang, dengan suara tidak sah 23 surat suara. TPS 051, Kelurahan Angke. Jumlah DPT 412 orang, Jumlah warga yang ikut memilih 246 orang, dengan suara yang tidak sah 9 surat suara. TPS 046, Kelurahan Angke, jumlah DPT 300 orang, jumlah warga yang ikut memilih 191 orang, dengan suara yang tidak sah 16 surat suara. dTPS 073, Kelurahan Kalideres, jumlah DPT 419 orang, jumlah warga yang ikut memilih 271 orang dengan suara tidak sah 20 surat suara. Dengan perolehan suara untuk DPD 34 surat suara tidak sah.
Hal senada tejadi di beberapa TPS di Depok. TPS 01 jumlah DPT 249 orang namun yang sampai Pemilu terselenggara 20 orang tidak mengambil formulir C4, masih ditambah dengan jumlah yang tidak hadir pada saat pemilu sebanyak 50 orang.
Kita berharap pemilu kali ini berjalan sukses.(Tia)
Mengenai Saya
- Indo Berita nusantara
- jakarta, selatan, Indonesia
- Indo Berita Nusantara merupakan situs berita internet yang memberikan informasi berbentuk berita diseluruh nusantara Alamat Jl. Joe. Gg. Kelapa Hijau Telp.(021)98265014 Anda punya berita atau informasi silahkan kirim ke e-mal : ibernas.jakarta@yahoo.com
Senin, 13 April 2009
Semoga pemilu dapat berjalan dengan lancar dan aman.
Setidaknya itulah harapan warga masyarakat Sumatera Selatan. Mengingat ini adalah hajatan terbesar bangsa ini dalam kurun waktu lima tahun. Hal senada juga disampaikan oleh beberapa Anggota KPU yang penulis di kantor KPU Provinsi Sumatera Selatan beberapa hari yang lalu.
Seperti diungkapkan Drs. Ong Berlian, Anggota KPU Div Sosialisasi yang mengatakan bahwa, pada H-1 seluruh logistik pemilu sudah di sampaikan kepada TPS-TPS tujuan. Mulai dari kotak suara, surat suara hingga segel semua sudah 99% siap. Dengan jumlah DPT sebanyak 5.192.693 yang terdapat di seluruh Sumsel diharapkan para pemilih tersebut dapat melaksanakan dan memilih sesuai ketentuan yang telah ditetapkan sesuai dengan pilihan masing-masing tanpa adanya intervensi dari siapapun. Beliau menambahkan rencananya pada hari pemilihan para anggota KPU akan di terjunkan langsung ke setiap Korwil untuk memantau jalannya pemilihan, "dan untuk memberikan dukungan motir pada petugas lapangan".
Dikesempatan lain Ir. Ruslan Ismail, MM, Ketua Panwas Provinsi Sumatera Selatan di kantornya menjelaskan mekanisme dan komposisi dari Panwas yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Beliau mengatakan "sesuai Undang-undang no 22 tahn 2007 anggota panwas adalah terdiri dari Pers, Masyarakat, Akademisi (Pendidik) dan tenaga Ahli (Bidang Profesi)". Sehingga dengan begitu diharapkan pemilu dapat diawasi dengan pengawasan yang proporsional yang independensi panwas dapat terjaga.
Yang pasti harapan seluruh masyarakat Indonesia adalah hajat lima tahunan yang di gelar bangsa ini dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan pemimpin-peminpin yang bisa "diandalkan" oleh masyarakat dalam menciptakan masyarakat yang adil dan makmur sesuai amat Pancasila dan Undand-Undang Dasar 1945...AMIN... (sujana)
Seperti diungkapkan Drs. Ong Berlian, Anggota KPU Div Sosialisasi yang mengatakan bahwa, pada H-1 seluruh logistik pemilu sudah di sampaikan kepada TPS-TPS tujuan. Mulai dari kotak suara, surat suara hingga segel semua sudah 99% siap. Dengan jumlah DPT sebanyak 5.192.693 yang terdapat di seluruh Sumsel diharapkan para pemilih tersebut dapat melaksanakan dan memilih sesuai ketentuan yang telah ditetapkan sesuai dengan pilihan masing-masing tanpa adanya intervensi dari siapapun. Beliau menambahkan rencananya pada hari pemilihan para anggota KPU akan di terjunkan langsung ke setiap Korwil untuk memantau jalannya pemilihan, "dan untuk memberikan dukungan motir pada petugas lapangan".
Dikesempatan lain Ir. Ruslan Ismail, MM, Ketua Panwas Provinsi Sumatera Selatan di kantornya menjelaskan mekanisme dan komposisi dari Panwas yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Beliau mengatakan "sesuai Undang-undang no 22 tahn 2007 anggota panwas adalah terdiri dari Pers, Masyarakat, Akademisi (Pendidik) dan tenaga Ahli (Bidang Profesi)". Sehingga dengan begitu diharapkan pemilu dapat diawasi dengan pengawasan yang proporsional yang independensi panwas dapat terjaga.
Yang pasti harapan seluruh masyarakat Indonesia adalah hajat lima tahunan yang di gelar bangsa ini dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan pemimpin-peminpin yang bisa "diandalkan" oleh masyarakat dalam menciptakan masyarakat yang adil dan makmur sesuai amat Pancasila dan Undand-Undang Dasar 1945...AMIN... (sujana)
Selasa, 07 April 2009
MUSYAWARAH DALAM MEMPERSIAPKAN PEMILU 9 APRIL 2009 DI JAKARTA BARAT
Jakarta, dalam rapat kerja Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) se-Kota Administrasi Jakarta Barat (6/4/2009) di Twin Plaza Hotel Jl. S. Parman No. 93-94, Jakarta Barat yang dihadiri oleh sekitar 60 orang dari 56 kelurahan wilayah Jakarta Barat, H. Burhanudin sebagai Wakil Wali Kota Jakarta barat mengingatkan kepada petugas PPL mengenai tugas pokoknya yaitu tentang sosialisasi pemilu, pengawasan terhadap jalannya distribusi logistik pemilu.
Pada waktu yang sama Sukardi (Kasat Intel Jakarta Barat) mengatakan pihak kepolisian beserta jajaran lain akan turut serta dalam mengawasi jalannya pemilu secara terbuka dan tertutup dengan jumlah sekitar 1.400 personil dan menghimbau agar PPL mengenali lapangan atau wilayahnya serta harus adanya persepsi antar Panwaslu.
Kendala yang dihadapi oleh PPL adalah kurangnya anggaran untuk mendukung dana operasi demi meningkatkan kinerja Panwaslu, sulitnya berkoordinasi dengan kecamatan dan kelurahan dalam mensosialisasikan tata cara Pemilu kepada masyarakat, serta masih adanya warga yang namanya terdaftar di DPS tetapi tidak ada di DPT.
Pada waktu yang sama Sukardi (Kasat Intel Jakarta Barat) mengatakan pihak kepolisian beserta jajaran lain akan turut serta dalam mengawasi jalannya pemilu secara terbuka dan tertutup dengan jumlah sekitar 1.400 personil dan menghimbau agar PPL mengenali lapangan atau wilayahnya serta harus adanya persepsi antar Panwaslu.
Kendala yang dihadapi oleh PPL adalah kurangnya anggaran untuk mendukung dana operasi demi meningkatkan kinerja Panwaslu, sulitnya berkoordinasi dengan kecamatan dan kelurahan dalam mensosialisasikan tata cara Pemilu kepada masyarakat, serta masih adanya warga yang namanya terdaftar di DPS tetapi tidak ada di DPT.
Senin, 30 Maret 2009
MASIH ADA DAERAH YANG BELUM TERIMA LOGISTIK PEMILU
Jakarta - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) kembali mengkhawatirkan kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait masalah pendistribusian logistic pemilu yang menurut Bawaslu masih ada beberapa daerah yang belum menerimanya.
Hal tersebut disampaikan Ketua Bawaslu, Nurhidayat Sardini dalam acara Sosialisasi Bawaslu bertema "Pengawasan Logistik Pemilu Legislatif thn 2009 bagi media massa" di Hotel Millenium Sirih Jakarta, Jumat 27 Maret 2009.
“Kami secara pribadi sangat kawatir tentang distribusi logistik Pemilu ini, mengingat ada beberapa wilayah kab/kota yang sampai sekarang ini belum menerima logistik Pemilu,”keluh Hidayat.
Lebih lanjut Hidayat mengatakan Bawasly membagi kondisi tahapan pemilu dalam beberapa tahapan yaitu tahap pra gawat sekitar tanggal 24-28 Maret, tahap gawat sekitar tanggal 29-31 Maret, tahap genting sekitar 1-4 April) dan tahap kritis sekitar 4-9 April.
“Sekarang ini sudah memasuki kategori Pra Gawat artinya walaupun distribusi logistik sudah 80 % namun sebarannya hanya terkonsentrasi dibeberapa tempat saja,belum menjangkau wilayah lain terutama dengan akses infrastruktur terbatas,”terangnya.
Untuk itu, dirinya meminta KPU untuk melakukan berbagai cara agar penyelenggaraan pemilu bisa tepat waktu. “Titik rawannya adalah soal jumlah dan jenis logistik yang tidak sesuai kebutuhan, logistik yang tidak tersedia di KPPS pada hari H, serta surat suara yang tertukar dengan daerah lain,”tukas Hidayat. (Gahar).
USUL PENUNDAAN PEMILU DITENTANG
Jakarta - Imparsial dan Jaringan Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menolak usulan berbagai pihak agar pelaksanaan pemilu ditunda. Penundaan pemilu akan mengancam kehidupan demokrasi bangsa dan inkonstitusional.
Demikian dikatakan Direktur Manajerial Imparsial, Rusdi Marpaung dalam jumpa pers tentang "Upaya mendukung Pemilu Demokratis, Aman, dan Menghormati HAM" di kantor Imparsial jalan Diponegoro Jakarta, Jumat 27 Maret 2009
“Kami menegaskan bahwa penundaan apalagi penggagalan pemilu harus dicegah, dihindari dan ditolak. Hal ini akan mengancam proses demokratisasi serta merupakan bentuk tindakan yang inskontitusional,”tegas Rusdi.
Untuk itu dirinya menghimbau kepada para pihak penyelenggara pemilu untuk sungguh-sungguh memperbaiki semua kelemahn yang ada.”Kami prihatin atas berbagai upaya untuk menciptakan kesan bahwa pemilu 2009 dalam kondisi kurang persiapan, tidak aman sehingga perlu ditunda,”jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama Program Coordinator for Interactive Media Praxis Association, Andi K Yuwono mendesak aparat kepolisian untuk serius menjalankan fungsinya dalam pengamanan pemilu, terutama yang berkaitan dengan tindak pidana Pemilu.
“Kami juga berharap bahwa para kontestan Pemilu tidak melakukan tindakan yang menodai proses dan hasil pemilu. Mari kita bersama-sama memantau dan melaporkan bentuk pelanggaran dalam proses pemilu ini,”ajaknya. (Gahar)
Hal tersebut disampaikan Ketua Bawaslu, Nurhidayat Sardini dalam acara Sosialisasi Bawaslu bertema "Pengawasan Logistik Pemilu Legislatif thn 2009 bagi media massa" di Hotel Millenium Sirih Jakarta, Jumat 27 Maret 2009.
“Kami secara pribadi sangat kawatir tentang distribusi logistik Pemilu ini, mengingat ada beberapa wilayah kab/kota yang sampai sekarang ini belum menerima logistik Pemilu,”keluh Hidayat.
Lebih lanjut Hidayat mengatakan Bawasly membagi kondisi tahapan pemilu dalam beberapa tahapan yaitu tahap pra gawat sekitar tanggal 24-28 Maret, tahap gawat sekitar tanggal 29-31 Maret, tahap genting sekitar 1-4 April) dan tahap kritis sekitar 4-9 April.
“Sekarang ini sudah memasuki kategori Pra Gawat artinya walaupun distribusi logistik sudah 80 % namun sebarannya hanya terkonsentrasi dibeberapa tempat saja,belum menjangkau wilayah lain terutama dengan akses infrastruktur terbatas,”terangnya.
Untuk itu, dirinya meminta KPU untuk melakukan berbagai cara agar penyelenggaraan pemilu bisa tepat waktu. “Titik rawannya adalah soal jumlah dan jenis logistik yang tidak sesuai kebutuhan, logistik yang tidak tersedia di KPPS pada hari H, serta surat suara yang tertukar dengan daerah lain,”tukas Hidayat. (Gahar).
USUL PENUNDAAN PEMILU DITENTANG
Jakarta - Imparsial dan Jaringan Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menolak usulan berbagai pihak agar pelaksanaan pemilu ditunda. Penundaan pemilu akan mengancam kehidupan demokrasi bangsa dan inkonstitusional.
Demikian dikatakan Direktur Manajerial Imparsial, Rusdi Marpaung dalam jumpa pers tentang "Upaya mendukung Pemilu Demokratis, Aman, dan Menghormati HAM" di kantor Imparsial jalan Diponegoro Jakarta, Jumat 27 Maret 2009
“Kami menegaskan bahwa penundaan apalagi penggagalan pemilu harus dicegah, dihindari dan ditolak. Hal ini akan mengancam proses demokratisasi serta merupakan bentuk tindakan yang inskontitusional,”tegas Rusdi.
Untuk itu dirinya menghimbau kepada para pihak penyelenggara pemilu untuk sungguh-sungguh memperbaiki semua kelemahn yang ada.”Kami prihatin atas berbagai upaya untuk menciptakan kesan bahwa pemilu 2009 dalam kondisi kurang persiapan, tidak aman sehingga perlu ditunda,”jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama Program Coordinator for Interactive Media Praxis Association, Andi K Yuwono mendesak aparat kepolisian untuk serius menjalankan fungsinya dalam pengamanan pemilu, terutama yang berkaitan dengan tindak pidana Pemilu.
“Kami juga berharap bahwa para kontestan Pemilu tidak melakukan tindakan yang menodai proses dan hasil pemilu. Mari kita bersama-sama memantau dan melaporkan bentuk pelanggaran dalam proses pemilu ini,”ajaknya. (Gahar)
Selasa, 24 Maret 2009
CALEG MUDA BERPOTENSI
Pemilu 2009 diwarnai kehadiran seorang caleg muda yang mempunyai potensi besar dengan latar belakang pendidikan yang mendukung. Namanya Jerry A. K. Sambuaga, MIA Caleg DPR RI dari Partai Golkar Dapil DKI Jakarta II (Jakarta Pusat – Jakarta Selatan – Luar Negeri) politisi muda yang berusia 23 th menpunyai semangat besar untuk mengabdikan diri untuk kesejahteraan rakyat dan kemajuan Bangsa dan Negara. Dgn usianya yang masih relative muda sudah berfikiran jauh maju kedepan. Diposkonya Jl. Cimandiri No. 11, Cikini, Jakarta Pusat Jerry A. K. Sambuaga, MIA (23/03) Mengatakan bahwa Visi dan Misi dalam kampanye legislatif Pemilu 2009 ini adalah menyangkut tiga komponen dasar yaitu lapangan pekerjaan, kesehatan dan pendidikan. Sehingga tiga komponen tersebut yang harus diperhatikan terlebih dahulu untuk menunjang aspek-aspek lain agar tercapai pemerataan ekonomi dan kesejahteraan di semua lapisan masyarakat. Tiga hal tersebut merupakan tujuan utama yang dikemukakan dalam kampanyenya disamping aspek yang lain karena tiga komponen tersebut adalah hal yang paling relevan dan berhubungan langsung dengan masyarakat kalangan bawah. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya “Posko Jerry Sahabat Kita” (JKS) diseluruh kecamatan dan kelurahan Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat (18 Kecamatan) untuk menampung aspirasi dari bawah. Fenomena Money Politik yang berkembang dikalangan masyarakat memang ada dan ditakutkan apabila caleg tersebut terpilih nantinya akan berusaha mengembalikan “modal” yang telah dikeluarkan dengan menggunakan jabatan dan kekuasaan yang diperolehnya, dan hal tersebut bertentangan dengan prinsipnya karena kedudukan atau posisi dilegeslatif merupakan sebuah pengabdian. Untuk itu perlu diadakan legalitas hukum mengenai sumber dana yang masuk dan keluar dari para caleg itu sendiri agar ada transparansi kepada masyarakat, sehingga para caleg boleh mendapat sumber dana dari manapun asal penggunaan sumber dana tersebut untuk kepentingan publik. Pada dasarnya politik adalah kepentingan. Untuk itu perlu dibuatkan suatu payung hukum (undang-undang) yang melegalkan hubungan antara politisi/birokrasi, pengusaha dan tim pelobi, sehingga jelas tranparansi kepentingannya apakah caleg tersebut berjuang untuk rakyat atau berjuang untuk pengusaha (diri sendiri) seperti sistem yang ada di Amerika Serikat.
Minggu, 22 Maret 2009
Parpol Kurang Pede Untuk Calonkan Kader Sendiri
Jakarta - Berdasarkan target perolehan suara nasional pada pilleg 2009 yang diperoleh dari hasil survey, sebagian besar parpol tampak kurang percaya diri untuk mendudukan kadernya sebagai Presiden dan Wakil Presiden dari parpolnya sendiri untuk bisa membentuk suatu pemerintahan yang kuat. Partai politik cenderung mengandalkan pemerintahan koalisi.
Demikian dikatakan Sekjen Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Sebastian Salang saat merilis Pengumuman Hasil Survey Parpol Peserta Pemilu 2009 di Hotel Milenium Jakarta, Selasa 17 Maret 2009@.
Sebagian besar parpol,menurut Formappi, hanya mempersiapkan diri untuk mengirimkan kadernya di parlemen nasional dan bukan untuk membentuk pemerintahan nasional. Bahkan ada pula parpol yang hanya mengkonsentrasikan diri untuk dapat mendudukan wakilnya di DPRD.
"Untuk membiaya kampanye, sebagian parpol mengandalkan calrg masing-masing. Hal ini akan berimplikasi pada lemahnya kontrol parpol terhadap caleg, bahkan terhadap caleg yang terpilih sebagai anggota legislatif. Para caleg yang berfinansial lebih kuat dari pengurus parpol akan cenderung mendiktekan pendapatnya kepada pengurus parpol. Lebih dari itu, kebersihan mereka dari korupsi diragukan,"papar Sebastian.
Formappi merilis partai dengan kesiapan organisasi dan caleg maksimal di 33 provinsi antara lain Demokrat 671 caleg, Golkar 641 caleg, PDIP 627 caleg, Hanura 606 caleg, PAN 596 caleg.
Sedangkan partai dengan kategori sedang antara lain PKS 579 caleg, PPP 472, PDP 402 caleg, PKB 398 caleg, Gerindra 396 caleg, PBB 395 caleg, PDS 323 caleg, PIS 317 caleg, PKPI 315 caleg, PBR 314 caleg, PMB 303 caleg.
Adapun partai dengan kategori minim antara lain PPIB 55 caleg, Merdeka 89 caleg, PPNUI 101 caleg, Pelopor 109 caleg, PNIM 115 caleg, PSI 127 caleg, Patriot 117 caleg, PKPB 141 caleg, PKDI 146 caleg, PPD 159 caleg.
"Tiga partai yaitu Hanura, Demokrat dan Gerindra mampu memadukan strategi lengkap seperti menggunakan pengaruh tokoh nasional, mengandalkan program umum yang kuat, menyiapkan program khusus untuk pemilu, memadukan dukungan finansial partai dan caleg, memanfaatkan jaringan partai dan caleg serta menggunakan media modern dan tradisional,"lanjut Sebastian.
Sementara itu PDIP dan RepublikaN juga menggunakan pengaruh tokoh nasional,mengandalkan program umum yang kuat, menyiapkan program khusus untuk pemilu namun dari sisi pendanaan kedua parpol tersebut hanya mengandalkan caleg, tidak ada dukungan finansial dari partai.
"Empat parpol yaitu Golkar,PKS, PAN dan PIS mengandalkan program umum yang kuat, menyiapkan program khusus untuk pemilu, menyediakan dukungan finansial oleh partai untuk berkampanye, mengandalkan dukungan finansial caleg, memanfaatkan jaringan partai, memakai jaringan caleg dan mengandalkan media modern dan tradisional,"tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, pengamat politik LIPI Syamsudin Haris menilai kesiapan semua parol peserta pemilu tidak dapat diperbandingkan, karena parpol lama jelas memiliki kesempatan mempersiapkan diri lebih lama ketimbang parpol baru. Karena itu,menurut dia, penilaian atas kesiapan parpol semestinya pertama-tama didasarkan pada pembedaan antara parpol lama dan parpol baru.
"Keunggulan Demokrat, Hanura dan Gerindra dalam strategi yang dianggap lengkap, bisa dipahami karena ketiga partai tersebut secara geneologis merupakan reinkarnasi Golkar. Artinya para elit ketiga parpol tersebut belajar dari keunggulan dan kekurangan Golkar. Karena itu jika parpol-parpol tersebut memperoleh suara signifikan maka konsekuensi logisnya berdampak pada penurunan signifikan suara Golkar karena segmen pemilihnya cenderung sama atau tumpang tindih,"terangnya.
Selain itu, Syamsudin menganggap kategori agamis, nasionalis, konservatif, progresif pada parpol acapkali sekedar kemasan belaka untuk meraih dukungan. "Bahkan ada juha yang mencantumkannya sekedar untuk memenuhi persyaratan undang-undang,"sindirnya.
Kalau mau jujur,tega Syamsudin, sebenarnya parpol peserta pemilu 2009 pada umumnya tidak atau belum siap memperoleh mandat rakyat. "Parpol hanya siap untuk berkuasa, merebut kursi legislatif,dan menguasai pemerintahan,"ujar Syamsudin.(Gahar)
Demikian dikatakan Sekjen Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Sebastian Salang saat merilis Pengumuman Hasil Survey Parpol Peserta Pemilu 2009 di Hotel Milenium Jakarta, Selasa 17 Maret 2009@.
Sebagian besar parpol,menurut Formappi, hanya mempersiapkan diri untuk mengirimkan kadernya di parlemen nasional dan bukan untuk membentuk pemerintahan nasional. Bahkan ada pula parpol yang hanya mengkonsentrasikan diri untuk dapat mendudukan wakilnya di DPRD.
"Untuk membiaya kampanye, sebagian parpol mengandalkan calrg masing-masing. Hal ini akan berimplikasi pada lemahnya kontrol parpol terhadap caleg, bahkan terhadap caleg yang terpilih sebagai anggota legislatif. Para caleg yang berfinansial lebih kuat dari pengurus parpol akan cenderung mendiktekan pendapatnya kepada pengurus parpol. Lebih dari itu, kebersihan mereka dari korupsi diragukan,"papar Sebastian.
Formappi merilis partai dengan kesiapan organisasi dan caleg maksimal di 33 provinsi antara lain Demokrat 671 caleg, Golkar 641 caleg, PDIP 627 caleg, Hanura 606 caleg, PAN 596 caleg.
Sedangkan partai dengan kategori sedang antara lain PKS 579 caleg, PPP 472, PDP 402 caleg, PKB 398 caleg, Gerindra 396 caleg, PBB 395 caleg, PDS 323 caleg, PIS 317 caleg, PKPI 315 caleg, PBR 314 caleg, PMB 303 caleg.
Adapun partai dengan kategori minim antara lain PPIB 55 caleg, Merdeka 89 caleg, PPNUI 101 caleg, Pelopor 109 caleg, PNIM 115 caleg, PSI 127 caleg, Patriot 117 caleg, PKPB 141 caleg, PKDI 146 caleg, PPD 159 caleg.
"Tiga partai yaitu Hanura, Demokrat dan Gerindra mampu memadukan strategi lengkap seperti menggunakan pengaruh tokoh nasional, mengandalkan program umum yang kuat, menyiapkan program khusus untuk pemilu, memadukan dukungan finansial partai dan caleg, memanfaatkan jaringan partai dan caleg serta menggunakan media modern dan tradisional,"lanjut Sebastian.
Sementara itu PDIP dan RepublikaN juga menggunakan pengaruh tokoh nasional,mengandalkan program umum yang kuat, menyiapkan program khusus untuk pemilu namun dari sisi pendanaan kedua parpol tersebut hanya mengandalkan caleg, tidak ada dukungan finansial dari partai.
"Empat parpol yaitu Golkar,PKS, PAN dan PIS mengandalkan program umum yang kuat, menyiapkan program khusus untuk pemilu, menyediakan dukungan finansial oleh partai untuk berkampanye, mengandalkan dukungan finansial caleg, memanfaatkan jaringan partai, memakai jaringan caleg dan mengandalkan media modern dan tradisional,"tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, pengamat politik LIPI Syamsudin Haris menilai kesiapan semua parol peserta pemilu tidak dapat diperbandingkan, karena parpol lama jelas memiliki kesempatan mempersiapkan diri lebih lama ketimbang parpol baru. Karena itu,menurut dia, penilaian atas kesiapan parpol semestinya pertama-tama didasarkan pada pembedaan antara parpol lama dan parpol baru.
"Keunggulan Demokrat, Hanura dan Gerindra dalam strategi yang dianggap lengkap, bisa dipahami karena ketiga partai tersebut secara geneologis merupakan reinkarnasi Golkar. Artinya para elit ketiga parpol tersebut belajar dari keunggulan dan kekurangan Golkar. Karena itu jika parpol-parpol tersebut memperoleh suara signifikan maka konsekuensi logisnya berdampak pada penurunan signifikan suara Golkar karena segmen pemilihnya cenderung sama atau tumpang tindih,"terangnya.
Selain itu, Syamsudin menganggap kategori agamis, nasionalis, konservatif, progresif pada parpol acapkali sekedar kemasan belaka untuk meraih dukungan. "Bahkan ada juha yang mencantumkannya sekedar untuk memenuhi persyaratan undang-undang,"sindirnya.
Kalau mau jujur,tega Syamsudin, sebenarnya parpol peserta pemilu 2009 pada umumnya tidak atau belum siap memperoleh mandat rakyat. "Parpol hanya siap untuk berkuasa, merebut kursi legislatif,dan menguasai pemerintahan,"ujar Syamsudin.(Gahar)
Langganan:
Postingan (Atom)